Membantu Janda dan Anak-anak Yatim | Santunan Untuk Nur dan 4 Anaknya

23-01-2021

Nur Handayani (tiga dari kiri)

Nur Handayani (41 tahun) menjadi single parent merupakan ujian yang berat. Apalagi jika mendapat amanah dari Allah berupa anak-anak yang sejak usia belia sudah ditinggal wafat ayahnya. Begitulah yang dialami Nur Handayani, warga Lingkungan Kaliwining RT 03, RW 10, Sumbersari, Jember ini.

Suami Meninggal Kena Racun Ular Berbisa 

Ibu dari empat anak ini yang kesehariannya pas-pasan. Membesarkan empat anak yang masih bersekolah bukan hal yang mudah. Butuh perhatian ektra. Tidak ada lagi suami yang membantunya.

Suherman, sang suaminya telah wafat satu tahun yang lalu, tepatnya pada 5 April 2019 lalu akibat digigit ular berbisa saat membersihkan halaman rumahnya. Racun ular makin menyebar di seluruh tubuhnya sehingga ia meninggal dunia di rumah sakit,

Anak Terpaksa Drop-out

Anak pertamanya, Nurul Efendi (21 tahun), jenjang SMA-nya tidak tamat. Karena orangtuanya tidak punya biaya untuk membayar uang sekolahnya saat itu. Dan sekarang ia membantu ibunya bekerja mencari nafkah untuk adik-adiknya.

Nurul kini bekerja ikut orang mencuci piring di warung nasi goreng. Sukur Efendi (16 tahun), anak kedua bekerja di bengkel motor, tamat SMP. Ibunya tidak bisa membayar ijazah. Lalu kabar ini sampai ke YDSF Jember dan alhamdulillah pihak manajemen membantu untuk membayarkannya.

Saat ini Sukur tidak bisa melanjutkan sekolahnya pada jenjang SMA karena tidak ada biaya. Riski Romadhon (11 tahun) dan Siti Bilqis Alzahro (8 tahun) adalah anak ketiga dan keempat Nur Handayani. Keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Janda Dhuafa Kerja Buruh Cuci

Nur Handayani dalam kesehariannya bekerja sebagai tukang cuci. Jika ada tetangga yang membutuhkan tenaganya untuk mencuci, setrika baju atau memasak, dia pun dipanggil.

Prinsipnya adalah bekerja apapun asal halal. “Meskipun jika harus makan hanya nasi, garam dan tempe kami tetap bersyukur,” wanita berusia 41 tahun ini.

Nur menceritakan terkadang anak sulungnya membawa nasi goreng dari tempatnya bekerja lalu itu cukup dimakan bareng-bareng. “Alhamdulillah, pokoknya dinikmati saja,” ucapnya.

Rumahnya berbilik bambu yang sebagiannya bolong dan ditambal tripleks seadanya ukuran 4 x 6 meter. Lantainya sebagian tanah dan sebagiannya potongan-potongan keramik bekas. Atap genteng yang sedikit mulai rapuh. Jika hujan, maka harus menggulung kasur agar tidak kebasahan kena bocoran. Nur Handayani berusaha tabah dengan keadaan ini.

Justru hal inilah yang membuat Nur kemudian bangkit untuk bekerja dan mencari nafkah untuk anak-anaknya. Bahagia baginya adalah sederhana: bisa melihat anak-anaknya tersenyum itu sudah cukup. De’er sebedenah, gur nasek, buje, krupuk ampon cokop gun nak-kanak sek bedeh ‘Makan seadanya, biarpun hanya nasi, garam, krupuk, cukup bagi anak-anak tidak kelaparan dan mereka senang.’

Tak lupa juga dia mengajarkan anak-anak untuk shalat lima waktu dan memohon kepada Allah untuk diberi kecukupan dan kesehatan.

Salah satu hikmah dari sosok Nur Handayani ini adalaha bahagia itu sederhana. Dia mengibaratkan cukup sehari bisa makan nasi, garam dan krupuk saja. Begitu saja sudah bahagia. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?“ Begitu ayat-ayat Allah yang berulang 31 kali di surat Ar Rahman.

Agar Anak Bisa Sekolah Lagi

Mari kita berusaha, berdoa, bersyukur, dan berikhtiar yang merupakan salah satu cara kita mendekat kepada Allah. Semoga bertambah banyak orang baik yang akan menolong keluarga Nur Handayani agar bisa tetap menyekolahkan putra putrinya dan memperbaiki rumahnya.

Berikan infaq terbaik Anda untuk Nur Handayani dan anak-anaknya melalui Bank Syariah Indonesia (kode bank 451) nomor rekening 703.996.999.2 atas nama Yayasan Dana Sosial Al Falah.(Laporan: okibintan ariani).