Sukses dari Pupuk Organik Mulai dari Nol

30-12-2021

Sukses dari Pupuk Organik Mulai dari Nol | "Tak penting seberapa lambat engkau paham, asalkan engkau tak pernah berhenti belajar.” Begitulah sebuah gambar yang viral di media sosial beberapa waktu lalu.

Nampaknya tepat untuk menggambarkan sosok Sayudi (41 tahun), petani yang tinggal di Dusun Kopang Krajan, Desa Darsono, Kecamatan Arjasa, Jember.  (Baca juga: Agrowisata Durian di Jember, Potensi Mendunia)

Sukses dari Pupuk Organik Mulai dari Nol, Selalu Belajar Meskipun Hanya Tamatan Sekolah Dasar

Meski hanya sampai sekolah dasar saja, semangat belajar Sayudi sangatlah besar. Ia adalah petani ulet yang mau terus belajar. (Baca juga: Singkong Jember Jadi Istimewa di Tangan Gania)

Di sawah miliknya, Sayudi menanam padi, pare, cabe besar dan palawija lainnya. Sawah yang tak seberapa lebar itu hasilnya dia gunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Banyak petani kecil seperti Sayudi mengeluhkan harga pupuk yang sangat tinggi dan langka.

Terkadang dia kesulitan mendapatkan pupuk serta kadang tidak ada uang untuk membelinya. Dari hal  kelangkaan pupuk untuk petani dan harga yang terkadang naik dan melambung tinggi. (Baca juga: Erupsi Semeru Desember 2021, Ini Kebutuhan Warga Terdampak)

Luar Biasa, Petani yang Semangat Membacanya Tinggi  

Maka Sayudi tergerak untuk membuat pupuk organik sendiri. Walau hanya tamatan SD hobi membacanya tidak pudar, mulai dari koran, buku, artikel, hingga google.

Dia mengumpulkan bahan yang ada di sekitar rumahnya seperti kotoran sapi, daun-daunan, sampah kulit buah, sampah sayuran, ampas teh, ampas kopi, dan kulit bawang. (Baca juga: Kembali ke Desa Curah Situbondo Mengajar Ngaji

Dia memisahkan semua sampah organik tersebut sesuai kategori unsur semisal bahan yang mengandung Kalsium contoh cangkang telur dia pisahkan tersendiri, pun dengan bahan lain.

Dia bereksperimen sendiri ala ilmuwan. Ada bahan yang dipisah, ada pula yang diramu dengan bahan lain sesuai kebutuhan. Melalui eksperimen sederhana ini, dia mencoba ke lahan yang dikelola. Semula dia mencoba menggunakan setengah organik dan setengah kimiawi, dan hasilnya lumayan. (Baca juga: Kisah Guru di Jember | Mengantar Siswa Mandi di Kali)

Karena dia menyakini bahwa hasil panen tanaman organik, baik itu berupa tanaman pangan, palawija dan hortikultura akan lebih bagus. “Ini akan cepat diserap dan menyehatkan badan, berbeda dengan efek pupuk kimia yang berproses lama saat dimakan,” tuturnya.

Tak Pernah Berhenti Eksperimen dan Belajar 

Dia terus mencari informasi dan membaca tentang pembuatan pupuk organik. Dia mulai memisahkan bahan baku untuk difermentasi semua sampah kecuali yang berbahan plastik. (Baca juga: Kisah Kakek Tanpa Tulang Hidung Pantang Mengemis Dari Bondowoso)

Dia letakkan botol bekas yang telah diberi selang kecil bersambung ke wadah jerigen atau timba bekas. Sampah dari kulit buah, rajangan sayur bekas, dia taruh disebuah timba/bak  kemudian sedemikian rupa dibuat untuk fermentasi pupuk organik.

Dan pupuk tersebut dia ujicobakan di lahan miliknya. Setelah panen uji coba pertama dengan perbandingan 50 persen organik dan 50 persen kimia berhasil dengan tanam palawija.

Ujicoba kedua dia menggunakan full organic di tanaman padi miliknya. Mulai dari pupuk, hingga pembasmi hama full dari organik. Semua bahan dia ramu sendiri. Memang tidak mulus pada prosesnya. Inilah kisah Sayudi, petani yang sukses dari pupuk organik mulai dari nol.

Hasilnya Sangat Memuaskan, 10 Kali Lipat Dari Pupuk Kimia 

Tapi Sayudi pantang menyerah walau semua orang menyarankan untuk pakai bahan kimia untuk hama, tapi dia tetap pada pendirian pake organik. Dan ini terbukti saat panen hingga proses jemur gabah.

Dulunya sebelum organik, dalam setiap 50 kg gabah kering akan menghasilkan 25 kg beras. Kadang hanya dapat 20 kg beras dari 50 kg gabah kering.

Setelah menggunakan bahan pupuk dan pembasmi hama full organik, pascapanen padi dari 50 kg gabah kering menghasilkan 35 kg beras. Hasilnya 10 kg lebih banyak. Sayudi sempat tidak percaya dengan hasil panennya.

Dan sejak saat itu sejumlah rekannya ramai-ramai ingin belajar dan beralih menggunakan pupuk dan pembasmi hama tanaman menggunakan metode organik.

Tak sedikit pula orang di luar desanya belajar kepadanya tentang metode membuat dan menggunakan media organik untuk tanaman. Alhamdulillah, Sayudi termasuk petani sukses dari pupuk organik mulai dari nol. (Baca juga: Budidaya Jamur Tiram Untuk Pemula | Modal Awal Hanya Rp 25 Ribu)

YDSF Ikut Sumbangsih Modal Usaha Tani 

Pada suatu kesempatan, YDSF Jember ikut memberikan stimulus bantuan kepada Pak Suyudi untuk mengembangkan usaha pupuk cair organik buatannya.

Alhamdulillah, bantuan YDSF ini makin menambah semangat saya,” ucapnya penuh senyum. Harapan ke depan usaha pupuk cair organik ini bisa menaikkan taraf hidup petani di sekitarnya. 

Sukses dari pupuk organik mulai dari nol seperti Sayudi perlu diadaptasi petani lainnya, tentu dengan usaha yang sungguh-sungguh dan doa yang tulus. Dukungan kita sangat berarti bagi Sayudi dan rekan-rekannya. (Baca juga: Wisata Inovatif di Jember Gading Asri | Bisa Petik 7 Macam Buah)      

“Biar bisa menyekolahkan anak-anak sampai tinggi. Kalau bisa cara ini bisa dikembangkan generasi muda labih baik lagi,” katanya penuh harap.(naskah dan foto: okibintan).

###
Donasikan infaq terbaik Anda bagi mereka yang terdampak paling parah akibat Pandemi Covid-19. Dan juga donasi Anda juga sangat membantu petani organik seperti Sayudi. Donasi bisa transfer ke: 
BSI nomor 703.996.999.2 atas nama Yayasan Dana Sosial Al Falah.

Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) adalah sebuah lembaga amil zakat yang terpercaya di Indonesia sejak 1987 dan telah dieprcaya lebih dari 300 ribu donatur rutin di seluruh Indonesia.